Sabtu, 07 Januari 2017

Menyongsong Masa Depan Cerah Timnas Indonesia



            Tahun baru sudah tiba, kini saatnya menyonsong masa depan yang lebih cerah dan lebih baik ditahun baru. Setelah kita lewati tahun 2016 dengan penuh lika-liku dan sudah saatnya sekarang menyonsong hari yang lebih baik. Perumpaan ini mau saya coba jadikan contoh bagi perkembangan terakhir bagaimana kondisi sepak bola Indonesia. Setelah tahun 2016 Indonesia harus terkena sebuah pukulan telak setelah di banned akibat adanya campur tangan pemerintah terhadap PSSI membuat Indonesia harus rela di sanksi oleh FIFA.
            Setelah berakhirnya sanksi oleh FIFA terhadap Indonesia, sepak bola Indonesia seakan bangkit dari tidur panjangnya. Betapa tidak setelah satu tahun lamanya Indonesia tidak mengikuti kegiatan persepakbolaan, Indonesia sangat lapar gelar setelah puasa gelar selama dua decade. Inilah yang efek yang ditimbulkan dari adanya sanksi yang diberikan FIFA terhadap Indonesia. Namun setelah dicabutnya sanksi oleh FIFA, seakan menggerakan kembali euphoria yang dicambukan pecinta sepak bola Indonesia bagi Timnas.
            Setelah ditandai penunjukan kembali seorang Alfred Riedl menjadi pelatih untuk menghadapi piala AFF 2016. Sangat jelas bagaimana Indonesia mencoba menyiapkan strategi untuk menghadirkan prestasi ke bumi pertiwi setelah sanksi FIFA. Lalu dilajutkan dengan uji coba melawan Malaysia di Solo, tergambar jelas wajah-wajah haus prestasi dari para pemain Timnas Indonesia setelah satu tahun lamananya tidak berlaga di pentas Internasional. Keikutsertaan Indonesia diajang AFF 2016 juga menguncang jagat sepak bola khususnya Asia Tenggara walaupun harus berakhir dengan kekalahan Indonesia di partai puncak, namun hasil ini patut diapresisasi karena Timnas kita diluar dugaan mampu melaju hingga partai final.
            Untuk tahun baru ini memang banyak agenda yang akan dijalani Indonesia selaku anggota FIFA. Diantaranya ada Sea Games ke-29, Kualifikasi Piala AFF U-23, U-19 dan untuk U-16 lalu ada juga untuk cabang Futsal akan diadakan kejuaraan Futsal AFF yang digelar di Bangkok, Thailand. Diantara beberapa turnamen kelompok umur ini diharapkan Timnas Indonesia meraih gelar bergengsi yang bisa membuat peringkat FIFA Indonesia bisa naik.
            Awal tahun ini juga akan diadakan Kongres Tahunan PSSI yang akan digelar pada ahad, 8 Januari 2016  di Bandung. Diharapkan dari kongres ini nantinya akan timbul gagasan dan gebrakan-gebrakan yang akan dicanangkan untuk kemajuan sepak bola Indonesia. Agenda yang akan dibahas mulai dari pembahasan mengenai operator Liga Indonesia hingga proses pergantian pelatih akan dibahas pada kongres kali ini.
            Mengenai pembahasan yang nantinya coba dibahas oleh voters yang berhak memberikan suaranya dalam kongres adalah masalah pergantian pelatih yang akan dilakukan PSSI untuk menghadapi turnamen yang akan berlangsung selama 2017. Jujur saya sangat tertarik sekali dengan wacana pergantian nahkoda dari Alfred Riedl yang penunjukannya seperti Roro Jongrang membuat candi pada pertengahan tahun lalu. Memang nama yang berhembus santer sekali merujuk kepada seorang Indra Sjafrie. Pelatih yang sukses bersama Timnas U-19 itu digadang-gadang menjadi suksesor Alfred Riedl di Timnas Indonesia. Selain berhembus nama pelatih local seperti Indra Syafrie rumor juga merujuk kepada nama-nama seperti Robert Rene Albert, Jaino Matos, sampai ada pula wacana untuk mempertahankan Alfred Riedl.
            Sempat ada guyonan bahwa keinginan Menpora Imam Nahrowi yang mengaku prihatin dengan kondisi persepakbolaan Indonesia yang kering prestasi ingin menghadirkan sosok Guus Hiddink ke Timnas dianggap sebuah jokes belaka. Menurut saya tidak masuk akal memasukan nama seorang Guus Hiddink ke dalam bursa pencalonan pelatih Indonesia, tapi alahkah baiknya Menpora mempertimbangkan kembali nama pelatih local dan asing yang kiranya mengerti culture sepak bola Indonesia untuk menangani Timnas Indonesia. Reputasi seorang Hiddink memang tidak perlu di pertayakan lagi. Korea berhasil menduduki peringkat empat Piala Dunia 2002, lalu Russia dibawanya menjelma menjadi kekuatan menakutkan pada Euro 2008. Rekor yang mentereng ditorehkan oleh Hiddink selama melatih Timnas Korea dan Russia dianggap Imam Nahrowi pelatih asal Belanda ini mampu menghadirkan prestasi bagi Indonesia.
            Sesungguhnya menanggani Timnas Indonesia bukan perkara mudah. Kita tahu Indonesia memang tidak pernah kekurangan bibit-bibit terbaik dalam sepak bola, namun mengapa hingga saat ini belum menemukan formulasi yang tepat untuk membentuk Timnas Indonesia yang tangguh. Setelah terkhir saya membaca riwayat kepalatihan seorang Antonio Polosin yang membawa Indonesia meraih medali emas Sea Games di Manila tahun 1991. Tidak ada nama pelatih baik asing maupun local yang mampu membawa Indonesia menjadi juara.
           
Indra Syafri, Pelatih yang sukses besama U-19
Saya mencoba menelaah bursa calon pelatih Timnas Indonesia yang santer terdengar akhir-akhir ini. Pertama ada nama seorang Indra Syafrie. Tidak dipungkiri memang prestasi Timnas U-19 adalah hasil jerih payah Coach Indra mencari bibit terbaik sampai ke pelosok nusantara. Berhasil membawa Indonesia memenangi gelar AFF U-19 serta masuk ke kualifikasi Piala Dunia U-19 memang tidak dipungkiri prestasi seorang Indra Syafrie. Di level Timnas Indonesia memang nama Coach Indra sangat mentereng namun di level klub Indra belum terbukti ampuh. Menangangi Bali United, Coach Indra belum terlalu banyak membawa perubahan yang signifikan bagi klub kebanggaan masyarakat Bali itu. Catatan positif saya seorang Indra Syafrie adalah tipe-tipe pelatih yang sangat suka pemain muda. Alangkah baiknya Coach Indra mencoba meramu daun-daun muda yang nantinya bisa menjadi cikal bakal Timnas senior Indonesia.Evan Dimas, Hansamu Yama, sampai Ilham Udin Armain adalah nama-nama yang diorbitkan oleh Coach Indra melalui pencarian bakat kepelosok nusantara. Penempatan Indra Syafrie mungkin lebih condong dan cocok kedalam kelompok umur mulai dari U-12, U-15 U-19, hingga U-21. Ini akan sangat membantu peremajaan Timnas yang nantinya diharapkan akan banyak daun  muda yang menjadi tumpuan Timnas Indonesia. Kekurangan Coach Indra apabila dari sudut pandang kacamata saya diantaranya ada di waktu mungkin. Mengapa saya bilang waktu, Timnas U-19 dibentuk itu sekitar 2-3 tahun pembentukan. Mereka semua adalah gabungan para pemain terbaik dari kelompok umur yang diseleksi mulai dari tahun 2013. Jadi apabila target yang dibebankan terhadap Indra sangat besar, Pelatih dengan perawakan kumis tebalnya ini akan sangat terganjal oleh masalah waktu. Namun apabila PSSI menginginkan peremajan kelompok umur, Coach Indra sangat amat berguna untuk peremajaan Timnas Indonesia.
           
Robert Rene Albert, Sukses bersama Arema Malang dengan menjuarai LSI 2010
Nama kedua ada Robert Rene Albert, siapa tak kenal opa asal Belanda ini. Berhasil membawa Arema Malang menjuarai LSI tahun 2010, nama Rene Albert sangat tenar dibelantika sepakbola Indonesia. Prestasi terakhirnya adalah mampu membawa PSM Makassar ke papan atas Turnamen ISC A yang berakhir tahun lalu. Inilah segelintir prestasi yang dihadirkan Rene Albert selama berkarir di Indonesia. Tidak ada salahnya bahwa Rene Albertlah yang berjasa menghadirkan DNA juara ke tim Arema hingga saat ini. Nama-nama seperti Kurnia Meiga, Benny Wahyudi serta Ahmad Bustomi adalah segelintir punggawa Arema yang masih bertahan sejak Arema menjuarai LSI hingga saat ini. Kelebihan Rene Albert adalah mengedepankan pemain yang memiliki visi bermain sangat baik dalam membangun tim. Contoh PSM Makassar menjelma menjadi tim penghuni papan atas setelah Coach Rene Albert menukangi tim Ayam Jantan dari Timur ini. Dihuni oleh nama-nama seperti Ferdinand Sinaga, Syamsul Haerudin, sampai Titus Bonai. Rene Albert membawa tim ini menjadi kekuatan menakutkan dengan rekor selama ISC A putaran kedua dengan hanya menelan satu kekalahan. Prestasi memang tidak perlu diragukan lagi bagi Coach yang identik dengan topi ini. Namun emosi yang sering meledak leda sangat menjadi boomerang bagi pelatih berkebangsaan Belanda ini. Rene Albert adalah orang yang selalu mengkritik kinerja wasit di Indonesia selama turnamen ISC A berlangsung. Banyak pihak yang memprediksi bahwa gaya kepelatihan yang mengedepankan multi disiplin sangat baik untuk mengantar Indonesia mengakhiri puasa gelar. Namun pandangan beberapa pihak bahwa kinerja Rene Albert yang minim menangani Timnas dianggap nilai minus untuk menangani Boas Salossa Cs. 

       
Alfred Riedl ( Sumber Juara.net)
Satu nama yang saya soroti adalah mempertahankan Coach Alred Riedl. Mengapa saya bilang mempertahankan Alfred Riedl sangatlah masuk akal, karena kita tahu Riedl sudah lama berkecimpung di Timnas. Mulai dari Timnas Vietnam hingga timnas Laos pernah Riedl asuh. Memang belum banyak prestasi yang muncul selama menangani Timnas Vietnam maupun Indonesia. Namun rakyat Indonesia sangat dibuat kagum dengan kinerja Riedl yang mampu bekerja dibawah tekanan. Tahun 2010 contohnya walaupun Indonesia gagal di piala AFF tapi menurut saya itu adalah sebuah prestasi yang Riedl bawa sejak pertama kali menukangi Timnas Garuda. Lalu sempat vakum akibat dualisme, Riedl tidak mampu membawa Indonesia lolos ke semifinal AFF 2014 setelah babak belur di fase grup. Yang terakhir, sempat tidak diperhitungkan kedalam bursa juara. Indonesia mampu lolos sampai partai puncak sebelum akhinya harus puas menjadi runner-up.  
            Beberapa nama lain juga santer terdengar mulai dari Jaino Matos yang merupakan mantan pelatih Persiba Balikpapan, lalu ada Erik Huistra yang sempat menjadi Head Coach Timnas Indonesia mulai dari kelompok umur hingga timnas Senior. Memang semua nama itu masih ditutup rapat-rapat oleh PSSI siapa yang akan menjadi suksesor Riedl di Timnas. Saya berharap siapapun Pelatihnya baik itu asing maupun local nantinya dapat membawa angin perubahan bagi sepakbola Indonesia. Setidaknya dapat menjadi raja Asia Tenggara terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke ajang berikutnya kalau perlu hingga Piala Dunia. Itu lah doa kita bersama-sama memiliki Tim Pelatih, Pemain, Pengurus organisasi hingga suporeter untuk dapat mengharumkan nama Garuda didada yang sudah lama puasa gelar selama dua dekade lamanya. Aamin @Novalindo9

Jumat, 23 Desember 2016

-Terima Kasih Timnas Indonesia-

sumber; juara.net
            Ucapan terima kasih adalah ucapan yang pas untuk menyambut para pejuang bangsa Indonesia yang telah berjuang dalam piala AFF 2016. Bagaimana tidak perjuangan Timnas Indonesia di ajang dua tahunan di Asia Tenggara itu, perjuangan Timnas layaknya sepeti kisah Cinderela. Bagaimana tidak, datang sebagai tim yang baru dihukum dari sanksi FIFA. Timnas Indonesia menjelma sebagai salah satu penantang serius juara Piala AFF 2016.
            Dimulai setelah terbebas dari sanksi FIFA, Indonesia lantas langsung mengelar uji coba dengan negara serumpun iaitu Malaysia. Nampak wajah-wajah lapar prestasi yang ditunjukan oleh pasukan Alfred Riedl menatap perjuangan untuk mengharumkan nama Indonesia. Telihat jelas di Stadion Manahan, Solo mereka berhasil melumat negara yang menjuarai piala AFF 2010 itu dengan skor 3-0. Lalu selanjutnya pasukan yang dibuat dadakan ini kembali menggelar uji coba dengan negara seperti Vietnam sebelum terjun pada gelaran Piala AFF. Perihal hasil memang dijadikan acuan, namun apa yang ditunjukan Indonesia dalam ajang uji coba ini dapat dijadikan sebuah angin segar untuk prestasi Indonesia.  
            Perjuangan di piala AFF 2016 dimulai ketika Timnas kita berhadapan dengan salah satu raksasa sepak bola Asia Tenggara. Thailand yang merupakan salah satu kontestan Kualifikasi Piala Dunia 2018 datang ke turnamen ini dengan kepala tegak. Setelah gagal total dalam Kualifikasi mereka menatap serius Piala AFF 2016 dengan persiapan yang matang, mereka berharap bisa meraih gelar juara untuk kelima kalinya. Perjuangan Indonesia pada ajang dua tahunan ini sungguh berat berhadapan dengan Thailand. Kita harus menelan kekalahan dengan skor 2-4.
            Setelah kekalahan 2-4 ini Timnas Indonesia kembali menghadapi team penuh kejutan di ajang ini iaitu Filiphina. Setelah beberapa tahun belakangan menjelma sebagai kekuatan sepak bola Asia Tenggara dengan program naturalisasinya. Filiphina tidak dapat dipandang remeh, memang sejarah mencatat kita pernah melumat Filiphina dengan skor 13-1, tapi hasil itu sekali lagi tidak bisa dijadikan sebuah acuan. Tahun lalu bahkan kita harus rela dipecundangi oleh Filiphina dengan skor 4-0 ini sungguh memalukan bukan. Pertandigan melawan Filiphina walaupun diawali dengan  keunggulan Indonesia melalui Fachrudin dan  Boas Salossa namun apa boleh buat kita harus merelakan tiga point yang telah digengam karena Filiphina memaksakan hasil imbang dengan skor imbang 2-2.
            Laga hidup mati selanjutnya Indonesia harus melawan Singapura dimana demi menjaga peluang lolos ke babak semifinal, Indonesia wajib hukumnya meraih kemenangan melawan Singapura. Dengan semangat berlapis baja kita melihat perjuagan Stefano Lilipaly dkk melawan Singapura sangatlah tinggi. Walaupun tertinggal 0-1 di babak pertama, akhirnya Timnas Indonesia meraih kemenangan dengan skor 2-1 melalui kaki Stefano Lilipaly dan Andik Vermansah. Asa Garuda lolos akhirnya terwujud setelah dipertandingan lainya Filiphina harus mengubur impian lolos ke semifinal setelah kalah dari Thailand.  
            Ini merupakan berkah bagi Timnas Indonesia. Dengan segala keterbatasan terjun ke turnamen ini setelas lepas dari sanksi FIFA. Timnas mampu menunjukan semangat pantang menyerah dengan melaju ke babak semifinal. Sekali lagi ini adalah sebuah kemenangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Suporter Indonesia sangat rindu melihat Timnas juara, dahaga selama dua dekade tidak melihat Timnas Senior memenangkan gelar juara dimana Timnas terakhir meraih gelar juara dalam ajang Sea Games 1991 di Manila.
            Mimpi hampir menjadi kenyataan dengan 30.000 pasang mata terfokus ke stadion Pakansari, Cibinong. Dengan satu harapan mereka berharap Timnas Indonesia berhasil meraih hasil yang sempurna pada malam itu untuk menjaga asa lolos ke final. Harapan itu memang masih ada dengan antusiasme penonton yang ingin menyaksikan Timnas Indonesia berlaga amat tinggi, mereka merelakan melepaskan embel-embel Suku, Ras, Agama hanya demi menonton Timnas berlaga. Karena dibenak semua supporter Indonesia hanya satu, iaitu Garuda Berjaya!!!
            Akhirnya benar saja. Pertandingan malam itu menjadi milik Timnas Indonesia. Indonesia berhasil mengatasi perlawanan Vietnam dengan skor 2-1 melalui goal dari Hansamu Yama dan Boas Salossa. Menurut saya ini menjadi titik balik sepak bola Indonesia. Dimana ketika diawal turnamen ini bergulir Indonesia sama sekali tidak diunggulkan namun meraih hasil yang sempurna dengan mengalahkan Vietnam pada leg pertama. Selanjutnya semifinal kedua berlangsung di Hanoi, Vietnam.
            Hasil di stadion Pakansari membawa asa Indonesia menjejakan satu kaki di final piala AFF 2016. Namun menurut Coach Alfred Riedl, “Indonesia tidak berpuas diri karena masih ada leg kedua di Hanoi”. Begitulah harapan pelatih kepada para pemain supaya tetap menjaga mentalitas pemain hingga partai puncak nanti. Pertandingan di Hanoi cukup berat namun harapan dan doa yang dilantunkan oleh jutaan rakyat Indonesia diharapkan nantinya bisa memberi motivasi dan semangat bagi Boas Salossa dkk.
          Akhirnya pertandingan seru di Vietnam digelar, dimana Indonesia harus menunda kelolosannya ke final piala AFF 2016 setelah dipaksa menjalani babak tambahan waktu untuk melaju ke babak final. Skor akhir yang berkesudahan hasil imbang untuk kedua team cukup untuk meloloskan Indonesia ke final untuk kelima kalinya setelah terakhir kali lolos pada 2010. Aggregat skor 4-3 untuk kemenangan Timnas meloloskan Indonesia ke partai puncak. Kebahagian cukup tercurah dari para pemain, official, hingga supporter baik tua maupun muda. Nampaknya dahaga itu mulai sedikit hilang dengan lolosnya Timnas Indonesia ke babak final.
            Lawan yang dihadapi Indonesia pada babak puncak adalah calon kuat juara turnamen tahun ini. Thailand dengan menyakinkan menang dengan skor aggregate 6-0 setelah mengatasi Myanmar. Thailand juga lah yang berhasil menghadirkan kekalahan pertama Indonesia pada babak grup kembali bertemu di babak pamungkas. Tentu semua pihak terkejut dengan lolosnya Timnas Indonesia dibawah asuhan Coach Alfred Riedl ke partai puncak. Setelah pembentukan tim yang hanya berlangsung selama tiga bulan belum lagi ditambah dengan regulasi yang membatasi pemain hanya dua masing-masing dari tiap klub makin memberatkan pelatih asal Austria ini.
            Namun apa yang telah saya singgung diatas mengenai cerita kelolosan Indonesia bagaikan cerita dongeng Cinderella. Sekali lagi kita masih punya harapan dan impian untuk juara ditengah keterbatasan ini. Thailand memang superior tapi lihat di Final leg pertama. Sama di Stadion Pakansari, Bogor. Timnas Thailand dipaksa bertekuk lutut dengan skor 2-1 untuk keungggulan Indonesia. Bukan tanpa halangan, tertinggal dengan skor 1-0 di akhir babak pertama Indonesia menciptakan comeback sempurna malam itu dengan menekuk Thailand dibabak kedua melalui goal spektakuler Rizki Pora walaupun mengenai badan dari pemain Thailand Tristan Do namun akhirnya bola mengucur deras ke dalam gawang Thailand yang dikawal oleh Kawin Samtachanat. Satu lagi goal diciptakan oleh Hansamu Yama memanfaatkan situasi sepak pojok yang dikirimkan oleh Rizki Pora.
            Hasil ini akhirnya mengantar Indonesia berjalan tegap menatap final leg kedua di Stadion Rajamanggala, Thailand. Modal ini harus dijaga demi menjaga peluang juara untuk pertama kalinya setelah terakhir kali masuk final pada 2010 dan harus puas menjadi runner up. Thailand bukan tanpa peluang, dengan bermodalkan satu goal ke gawang Indonesia, Thailand hanya butuh satu goal untuk memastikan gelar juara di kandang sendiri.
            Pertandingan leg kedua akhirnya digelar, seluruh mata dan jutaan harapan rakyat Indonesia mendoakan agar Indonesia dapat meraih gelar piala AFF 2016. Pertandingan berjalan a lot dari mulai pluit babak pertama dibunyikan. Indonesia terus dibombardir oleh Thailand sejak menit pertama, dan ini menjadikan signal bahaya untuk pertahanan Indonesia. Benar saja memasuki menit ke 37 striker mereka Siroud Chattong berhasil memecah kebuntuan setelah bola sepakan tidak sempurna Fakhrudin Arianto tidak mempu disapu dengan bersih dan mengenai kaki dari pemain Thailand bernomor punggung 9 ini. Skor 1-0 ini bertahan hingga babak pertama usai dan kedudukan dalam agregat skor Indonesia imbang dengan Thailand 2-2 namun Thailand unggul aggregate goal tandang.
            Memasuki interval kedua Thailand yang dimotori oleh Lionel Messinya Thailand Chanatip Songkrasin berhasil mengelabui Dedi Kusnandar untuk menggirimkan umpan kepada Siroud Chattong yang tanpa ampun menghukum pertahanan Indonesia dengan dua goal nya pada menit ke 47. Skor berubah 2-0 untuk keunggulan Thailand, Indonesia tertinggal dalam pertandingan ini namun asa itu tetap ada karena masih ada 43 menit lagi untuk mencetak satu goal dan memaksakan perpanjangan waktu. Namun sampai akhir pertandingan tidak ada lagi goal yang tercipta dan hasil ini akhirnya membuat Thailand kembali mengangkat Piala AFF untuk kelima kalinya sebaliknya bagi Indonesia hasil ini menjadikan Indonesia harus puas menjadi runner up kembali setelah harus rela menyaksikan Thailand berjaya dikandang mereka sendiri.
            Menurut saya hasil ini sangatlah fair, dengan melihat kiprah Indonesia sebelumnya yang harus terkena sanksi FIFA selama satu tahun tidak berkecimpung dalam pergulatan sepak bola. Namun dengan perjuangan susah payah berhasil lolos hingga partai puncak walaupun belum bisa mengangkat trophy untuk pertama kalinya. Ini dijadikan sebagai pembenahan bagi induk organisasi PSSI untuk lebih memperhatikan sector prestasi. Rakyat Indonesia sudah rindu gelar juara mereka ingin sekali melihat Timnas Indonesia berjaya, sudah terlalu lama terlelap dalam tidur nyenyaknya. Walaupun begitu Timnas Indonesia bagi saya tetap berjasa mempersatukan segala macam unsure etnis, budaya, agama, serta ras. Mereka bersatu pada demi lambang garuda didada dan slogan Bhineka Tunggal Ika yang terpangpang jelas digengam oleh Sang Garuda. Bagi saya inilah sebuah moment saling mempersatukan baik tua maupun muda, kaya ataupun miskin, dari Sabang sampai Merauke, dari Islam hingga Budha mereka begitu satu dan padu mendukung satu Garuda diDada. Semoga PSSI dan jajaran barunya segera membenahi sector ini dan tetap eksis menghasilkan pemain-pemain berkualitas demi menjaga persatuan dan kesatuan negeri ini, Bagi saya Timnas Indonesia telah Juara dengan berhasil menyatukan seluruh elemen itu. Ayo Maju TIMNAS INDONESIA !!!! Kalian telah JUARA DIHATI RAKYAT INDONESIA !!!
Sumber; Juara.net 

Akhir kata maju terus persepakbolaan Indonesia jangan  patah semangat Maju Terus !!!!









Muhammad Naufal




Ilmu Sejarah Universitas Indonesia